Jumat, 26 Maret 2021

Cara umum membuat cerita pendek


    Mendapat tugas membuat cerpen (cerita pendek) dalam jangka waktu satu Minggu tetapi tidak ada ide yang terlintas? Saya ada cara mendapatkan ide dengan mudah! Kira-kira apa saja, yah? 


    Banyak murid kesulitan membuat cerpen dalam beberapa faktor. Salah satunya adalah tidak ada ide dan jalan cerita yang terlintas di kepala. Setiap anak yang pandai membuat cerpen memiliki cara tersendiri untuk mendapatkan ide kreatif dengan alur yang tak terduga.


    Kali ini, saya akan memberikan informasi tentang cara-cara yang saya lakukan ketika saya hendak membuat cerpen. 


    1. Menentukan tema.

        Beberapa anak menentukan tema sesuai apa yang pernah ia alami atau ia lihat. Seperti tema romantis yang sering ditayangkan di televisi. Namun beberapa anak-anak ingin membuat cerita yang berbeda dari yang lain. Tema-tema yang sering digunakan oleh beberapa orang adalah, romantis, persahabatan, keluarga, horor, misteri, aksi, komedi dan lainnya.

        Dalam menentukan tema, lebih baik kita mengambil tema sesuai apa yang dipikiran kita, bukan dari saran teman. Tentang kritik dari pembaca adalah masalah nanti. Jika kita tidak memiliki ide sama sekali, maka lebih baik jika kita membuat cerita tentang diri kita sendiri. Contoh, menceritakan pengalaman sekolah.

    2. Membuat kerangka cerita

        Setelah menentukan tema, kita harus dapat mengarang kelanjutan cerita. Kelanjutan cerita yang kita buat, harus bersesuaian dengan tema. Apa yang akan terjadi setelah pengenalan? Apa yang terjadi sebelum terjadi klimaksnya?

        Untuk mendapatkan cerita yang menarik, kita harus dapat membuat pembaca tertarik dengan jalan cerita. Tarik perhatian pembaca dengan memberi sedikit misteri pada cerita. Contohnya merahasiakan salah satu tokoh utama dalam cerita, agar pembaca penasaran dan membaca dengan seksama.

       Namun, jika rangkaian cerita tidak menarik, maka percuma saja membuat pembaca penasaran. Pembaca akan berfikir rangkaian cerita selanjutnya akan membosankan.

    3. Memilih konflik yang akan terjadi.

        Menentukan konflik sangat penting dalam menjadikan sebuah cerita menarik. Jika konflik yang terjadi dapat membawa pembaca tersentuh dan ikut terbawa emosi, maka penulis sudah bisa dibilang berhasil. Membuat pembaca terbawa perasaan adalah salah satu tujuan penulis menulis cerita.

         Seperti cara yang kedua, memilih konflik harus bersesuaian dengan tema. Dan lebih baik lagi, jika konflik yang kita pilih menjerumus ke satu emosi. Jika kita ingin pembaca terbawa marah dengan konflik yang akan terjadi, maka kita harus membuat cerita yang benar-benar menguras emosi, terlebih lagi menjerumus ke satu emosi, yaitu kemarahan. 

    4. Menentukan ending (akhir cerita)

        Sebuah cerita pasti akan ada akhir. Ending dalam cerita ada tiga, yaitu :

        1. Happy ending (ending yang didalamnya terdapat hal positif yang terjadi pada tokoh utama). Sesuai dengan namanya, ending ini adalah akhir bahagia dari kisah tokoh. Biasanya penulis cerita menggunakan happy ending agar pembaca dapat berbahagia setelah membaca cerita yang banyak menguras emosi.

        2. Sad ending (ending yang didalamnya terdapat hal negatif yang terjadi pada tokoh utama). Sesuai dengan namanya, ending ini adalah akhir sedih dari kisah tokoh. Penulis tetap ingin menguras emosi pembaca, lebih tepatnya menguras air mata pembaca. Namun, biasanya cerita dengan akhir sad ending cenderung memiliki amanat di akhir cerita.

        3. Open ending (ending yang menggantung kelanjutan cerita). Open ending adalah akhir cerita yang dipilih penulis yang masih ingin melanjutkan ceritanya, namun pada cerita lain dengan tema, jalan cerita dan konflik yang berbeda dari cerita pertama. Dengan menggunakan akhir ini, penulis membuat pembaca semakin penasaran dan akan tetap setia menunggu cerita selanjutnya.

         Pada pembuatan cerpen, penulis lebih sering menggunakan sad atau happy ending, karena cerpen cenderung hanya dibuat sekali. Jika bingung memilih antara sad atau happy ending, kita harus tahu, apa tujuan kita membuat cerita.

         Jika kita ingin menguras habis emosi pembaca, maka akan lebih baik jika kita menggunakan akhir sad ending. Dan jika kita ingin menenangkan pembaca dari emosi karena konflik, maka akan lebih baik jika kita menggunakan akhir happy ending.


          Jadi, bagaimana? Apakah membantu? Semoga saja membantu. Jika ada yang ditanyakan, boleh bertanya di kolom komentar. Jika ingin mengkritik, silahkan mengkritik di kolom komentar. Saya adalah siswi yang masih belajar, jadi jangan sungkan untuk mengkritik. Malah saya senang, karena saya juga bisa belajar lebih baik. 

           Sampai jumpa!



KURANGNYA MINAT BACA PADA MURID


    Kurangnya minat membaca buku fiksi pada para murid adalah salah satu faktor kesulitan mereka dalam membuat cerita pendek. Mengapa demikian? Akibat kurang tidak pernah membaca buku fiksi, mereka kesulitan dalam merangkai kata. Bahkan dalam waktu berjam-jam, mereka masih belum menyelesaikan satupun kalimat. Hal tersebut karena mereka tidak tahu apa kata yang tepat untuk membuat sebuah kalimat.

    Beberapa murid cenderung malas membaca buku fiksi karena berfikir bahwa hal itu hanya membuang-buang waktu. Padahal, mereka membutuhkan bahan bacaan untuk belajar merangkai kata dan mengenal kata-kata asing yang tidak kita gunakan sehari-hari. Contohnya adalah majas. 

    Tetapi, tidak semua murid yang senang membaca buku fiksi dapat dengan mudah merangkai kalimat. Beberapa diantara mereka masih kesulitan merangkai kalimat, karena merasa kalimatnya kurang tepat. Apalagi kalau mereka membuat cerita terlebih dahulu sebelum menentukan tema.

   Untuk itu, para murid hendaknya meluangkan waktu untuk membaca buku fiksi. Setidaknya membaca satu buku dalam satu atau dua minggu. Namun, jangan lupa untuk membaca buku non fiksi. Karena buku fiksi hanya sebagai bacaan ringan saja.


CARA MEMBUAT SATE

Hai teman-teman. Kali ini, saya akan memberitahu cara membuat sate! Pasti tidak asing lagi dengan makanan yang satu ini! Tidak hanya di Indo...